Desember 5, 2018

Keluarga Budi Mulya Datangi KPK Ajukan Justice Collaborator

Keluarga Budi Mulya Datangi KPK Ajukan Justice Collaborator

Keluarga Budi Mulya Datangi KPK Ajukan Justice Collaborator-Anak mantan Deputi Gubernur BI Budi Mulya, Nadia Mulya, mendatangi gedung KPK. Dia menyerahkan dokumen pengajuan diri sebagai justice collaborator (JC).

di gedung KPK, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Nadia tiba pukul 13.45 WIB, Rabu (5/12/2018). Nadia, yang memakai kemeja putih, didampingi ibunya, Anne Mulya, dan pengacara Bonyamin Saiman.

Sebelum masuk ke gedung KPK, mereka sempat memperlihatkan halaman depan dokumen tersebut. Mereka mengatakan pengajuan permohonan menjadi JC itu untuk mendapatkan keadilan bagi Budi Mulya.Keluarga Budi Mulya Datangi KPK Ajukan Justice Collaborator

“Salah satu tujuannya ini adalah memberikan semangat kepada bapak saya dan menyakini bahwa nanti pasti akan mendapatkan keadilan. Dan salah satu bentuk upaya kita mengupayakan keadilan bagi bapak kita adalah memberikan dokumen yang barusan dikasih lihat oleh ibu saya,” kata Nadia.

Keluarga Budi Mulya Datangi KPK Ajukan Justice Collaborator

Dia berharap langkah ini dapat membantu kasus yang menjerat Budi Mulya terungkap sepenuhnya. Namun dia tak mau mengungkap materi pengajuan JC tersebut.

“Untuk masalah substansi, tidak bisa saya sampaikan. Ini sudah menjadi wewenang atau jadi milik KPK juga. Akan kami serahkan, semoga ini juga jadi bukti bapak saya bersedia membantu sampai kasus ini benar-benar diselesaikan,” ujarnya.Keluarga Budi Mulya Datangi KPK Ajukan Justice Collaborator

Dalam perkara Century, Budi Mulya di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi dihukum 10 tahun penjara karena terbukti bersalah melakukan tindak pidana korupsi dalam proses pemberian FPJP dan penentuan Bank Century sebagai bank gagal berdampak sistemik.

Majelis hakim menilai perbuatan Budi Mulya dan sejumlah orang lainnya telah merugikan keuangan negara total Rp 8,012 triliun.

Kerugian keuangan negara ini terdiri atas pemberian dana FPJP Rp 689,894 miliar dan penyertaan modal sementara (PMS) dua tahap, yakni Rp 6,7 triliun dan Rp 1,250 triliun. Budi Mulya diperberat hukumannya menjadi 15 tahun penjara oleh Mahkamah Agung.

REKAN BERITA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *